Tampilkan postingan dengan label KIMIA. Tampilkan semua postingan

  • Image result for efek pembakaran hidrokarbon


    A.  Efek buruk Hidrokarbon
    Senyawa kimia hidrokarbon seperti minyak dan gas bumi merupakan salah satu pencemaran yang sering terjadi di perairan laut. Polutan hidrokarbon di laut banyak merugikan ekosistem laut, bahkan mematikan komoditi tertentu yang akhirnya terjadi kepunahan. Selain itu, dilihat dari sifat kimiawinya, polutan hidrokarbon dapat mempengaruhi kesehatan manusia (karsinogenik). Polutan-polutan itu dapat berasal dari tumpahan minyak oleh kapal-kapal niaga, kapal-kapal tanker maupun kapal-kapal perang. Di samping itu dapat juga berasal dari pengeksploitasian minyak lepas pantai yang kurang pengendalian sehingga terjadi kesalahan teknis. Polutan minyak di laut juga bisa berasal dari air ballas, kapal tanker maupun kapal niaga lainnya.
    Minyak mentah (petroleum) adalah campuran yang kompleks, terutama terdiri dari hidrokarbon bersama-sama dengan sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur, oksigen, nitrogen, dan sangat sedikit komponen yang mengandung logam. Komposisi kimia pada minyak bumi sebagai bahan toksik di perairan sangat bervariasi, yaitu karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur. Dalam minyak bumi banyak terdapat zat kimia yang merupakan zat-zat pengotor sehingga mengurangi daya fungsinya, zat-zat tersebut yaitu senyawa sulfur, oksigen, nitrogen, dan konstituen metalik. Bahan-bahan pengotor pada minyak biasanya merupakan produk sampingan yang memiliki daya toksisitas di lingkungan lebih tinggi dari kimia utama yang terdapat dalam minyak bumi atau gas.
    Minyak yang mencemari laut sering dimasukkan dalam kelompok padatan, yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Minyak yang terdapat di dalam air dapat berasal dari berbagai sumber, diantaranya karena pembersihan dan pencucian kapal-kapal di laut. Buangan air ballas, pengeboran minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, tabrakan laut dan lain-lain.
    Toksisitas hidrokarbon telah diklasifikasikan ke dalam lima kelompok besar yaitu, alkana hidrokarbon aromatik tidak jenuh, hidrokarbon aromatik (mempunyai satu atau dua rantai aromatik), hidrokarbon  polysiklik (banyak rantai), dan hidrokarbon campuran. Penyebab minyak yang mencemari lautan secara umum adalah transportasi minyak, pengeboran minyak lepas pantai, pengilangan minyak, dan pemakaian bahan bakar minyak bumi.

    Pada hakikatnya, minyak tidak dapat larut dalam air, sehingga jika laut tercemar oleh minyak, maka banyak minyak tersebut akan mengapung, kecuali jika terdampar ke pantai atau tanah di sekeliling sungai. Tapi faktanya tidak demikian, karena semua jenis minyak mengandung senyawa volatil yang segera dapat menguap dan sisa minyak yang  tidak menguap akan mengalami emulsifikasi yang mengakibatkan minyak dan air bercampur. Jika minyak terapung akan kita lihat dua macam emulsi yang terbentuk antara minyak dan air, yaitu emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam minyak. Emulsi minyak dalam air terjadi jika droplet-droplet minyak terdispersi di dalam air dan distabilkan dengan interaksi kimia dimana air menutupi permukaan droplet-droplet tersebut.
    Emulsi air dalam minyak terbentuk jika droplet-droplet air tertutupi oleh lapisan minyak dan emulsi ini distabilkan oleh interaksi diantara droplet-droplet air yang tertutup. Emulsi semacam ini terlihat sebagai lapisan yang mengapung pada permukaan air dan lekat. Sebagian besar emulsi minyak tersebut kemudian akan mengalami degradasi melalui fotooksidasi spontan dan oksidasi oleh mikroorganisme, yang dalam hal ini sangat berperan dalam dekomposisi minyak di laut. Setelah kurang lebih tiga bulan, hanya beberapa saja volume minyak pencemar masih terdapat di dalam air.
    Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa pengaruh negatif  bagi biota laut, karena emulsi lemak dapat menghambat difusi oksigen dari atmosfer dalam badan air laut, serta menghambat penetrasi sinar matahari ke permukaan perairan, yang akhirnya mengakibatkan kematian fatal bagi biota. Air yang bercampur minyak, juga akan mengganggu organisme akuatik pantai, seperti berbagai jenis ikan, terumbu karang (pori-pori tertutup), hutan bakau (mangrove), dan merusak wisata pantai.
    Beberapa komponen yang menyusun minyak juga diketahui bersifat racun terhadap berbagai hewan maupun manusia, tergantung dari struktur serta molekulnya. Emisi minyak bumi umumnya mengandung senyawa logam berat seperti Pb (timbal) dan Cd (kadnium) yang sangat toksik bagi organisme perairan. Beberapa jenis zat kimia dari minyak bumi yang mengambang di permukaan air, biasanya lengket dan dapat menempel bulu burung laut yang berenang di sekitarnya sehingga burung itu tidak dapat terbang. Lapisan minyak di permukaan dapat juga menghambat kehidupan biota perairan, sehingga ikan atau hewan laut lainnya tidak dapat bernafas dan akhirnya mati dan tenggelam.
    Kimia yang beracun terkandung  pada minyak bumi adalah alkana, etil (non-aromatik), benzena (aromatik hidrokarbon), benzop (a) pyrene(polisiklik hidrokarbon/PAH), cumene, dan tetraline (campuran hidrokarbon). Dalam  menguraikan alkana, terdapat dua reaksi yang bersifat toksik bagi lingkungan, yaitu reaksi oksidasi dan reaksi substitusi dengan satu atom H atau lebih. Reaksi oksidasi dengan molekul oksigen, seperti reaksi pembakaran propana sebagai berikut :
    C3H8 + 5O2           3CO2 + 4H2O + panas
    Reaksi tersebut cukup berbahaya bagi lingkungan, karena dapat meningkatkan kandungan racun di lingkungan. Sedangkan reaksi substitusi misalkan reaksi metana dengan klorin yang dapat menghasilkan komponen toksik yaitu tetrachloride.
    Menurut Anonim (2012), hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut polycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.
    Jika gas dan uap yang sifatnya larut dalam air, maka zat tersebut dapat larut di dalam lendir yang melapisi permukaan saluran pernapasan, sehingga menimbulkan iritasi dan mungkin tidak akan pernah mencapai bagian bawah serat alveolus. Saat kita menarik napas, partikel-partikel yang menyusun zat toksik terkumpul di sepanjang saluran pernapasan. Oleh karena itu respon sistem pernapasan terhadap pemaparan zat toksik disaluran pernapasan akan mempengaruhi tingkat keparahannya, karena kemungkinan besar sistem imun tidak dapat melawannya jika zat toksik yang masuk terlalu banyak.
    Sel kanker tidak menanggapi secara normal mekanisme pengontrolan tubuh. Sel ini membelah secara berlebihan dan menyerang jaringan lain. Sel kanker tidak butuh faktor pertumbuhan dalam medium kulturnya. Sel ini mungkin membuat faktor pertumbuhannya sendiri atau memiliki abnormalitas pada jalur pensinyalan yang menghantarkan sinyal faktor pertumbuhan ke sistem pengontrolan siklus sel atau sistem pengontrolan siklus itu sendiri mungkin abnormal. Perilkau abnormal sel kanker dapat merusak apabila perilaku tersebut terjadi pada tubuh. Potensi masalah berawal ketika sel tunggal dalam jaringan mengalami transformasi,proses yang mengubah sel normal menjadi sel kanker. Akibat perubahan abnormal pada permukaan sel, sel itu juga kehilangan pelekatannya dengan sel di sebelahnya dan dengan matriks ekstraseluler, dan dapat menyebar ke jaringan di dekatnya. Sel kanker juga dapat dapat menyebar diluar dari tempat asalnya yang disebut metastasis.

    Pengaruh hidrokarbon aromatik pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini, yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan :
    Konsentrasi Jenis Hidrokarbon (ppm)
    Dampak Kesehatan
    Benzena (C6H6)
    100
    3000
    7500

    20000

    Iritasi membran mukosa
    Lemas setelah ½ – 1 jam
    Pengaruh sangat berbahaya setelah pemaparan 1 jam

    Kematian setelah pemaparan 5-10 menit
    Toluena (C7H8)
    200
    600

    Pusing lemah dan berkunang-kunang setelah pemaparan 8 jam
    Kehilangan koordinasi bola mata terbalik setelah pemaparan 8 jam
    Menurut Widyastuti (2000), pemaparan dari Hidrokarbon benzena dapat berupa zat cair ataupun gas yaitu melalui air dan udara. Minyak mentah merupakan campuran dari beribu-ribu hidrokarbon. Pada pabrik penyulingan misalnya, petroleum menghasilkan berbagai jenis polutan udara dan air serta limbah padat berbahaya. Seringkali polutan yang dilepaskan mengandung semua produk penyulingan kilang minyak (bahan bakar, solven, minyak, zat lilin, pelumas aspal ) dan khususnya hidrogen sulfida, hidrokarbon polisiklik aromatik, CO. CO2. dan benzena.
    Masalah seperti ini, biasanya akan berisiko terhadap penduduk masyarakat yang tinggal didaerah perindustrian. Hal tersebut dapat menyebabkan penduduk terkena dampak dari pencemaran air dan udara dengan menghirup udara tercemar serta mengkonsumsi air yang sudah tercemar. Resiko ini tergolong tinggi, misalkan saja gejala sakit pernafasan. Beberapa paparan bisa berasal dari kontak langsung melalui kulit dan inhalasi gas serta uap, terutama hidrokarbon yang secara alami memang terkandung di dalam minyak mentah(dilepaskan melalui penyulingan. Substansi pokok penduduk, terutama para pekerja, dapat terpapar saat bekerja di pabrik penyulingan petroleum.
    Selain itu dampak buruk lainnya adalah pada reaksi pembakaran hidroakarbon yang melibatkan O2 akan menghasilkan panas yang tinggi. Panas yang tinggi ini menimbulkan peristiwa pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek atau partikel karbon. Gas hidrokarbon dapat bercampur dengan gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk kabut minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan menggumpal menjadi debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates).
    Selain itu, hidrokarbon yang bersifat mutagenik akan sangat rentan pada hewan. Beberapa percobaan pada hewan telah membuktikan adanya indikasi perubahan gen pada hewan tersebut. Dengan kekalan massa yang berlaku, konsumsi hewan yang tercemar oleh manusia akan memindahkan kandungan senyawa hidrokarbon ke manusia.
    Dampak buruk pada tumbuhan oleh hidrokarbon dapat berupa campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat.
    Hasil pengolahan industri senyawa-senyawa hidrokarbon untuk kepentingan manusia akan menjadi bersifat polutan karena pengolahan/pemakaiannya yang tidak sempurna. Misalnya asap hasil pembakaran motor yang tidak sempurna merupakan hasil pengolahan senyawa hidrokarbon yang tidak sempurna.
    Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi dan sebagainya Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi bahan organik pada permukaan tanah, Demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan dan kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di atmosfer.

    Efek pembakaran Hidrokarbon terhadap Lingkungan dan Kesehatan

    6



  • Tata Nama Alkana
                       Tatanama semua senyawa organik terbagi menjadi tata nama sistematik dan tata nama umum. Tata nama sistematik diatur oleh badan internasional IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Sedangkan nama umum pemakaiannya sangat terbatas, karena hanya digunakan untuk senyawa-senyawa dengan rumus molekul sederhana atau senyawa-senyawa tertentu saja.
                   Nama yang diberikan pada suatu senyawa organik harus memberikan gambaran yang jelas mengenai rumus strukturnya demikian pula sebaliknya dari struktur yang ada nama suatu senyawa organik dapat ditentukan. Nama-nama beberapa alkana tidak bercabang yang sering disebut sebagai deret homolog dapat dilihat pada gambar.
    clip_image002
    Aturan-aturan pemberian nama sistematik alkana bercabang menurut IUPAC
    1) Alkana tak bercabang pemberian nama sistematik sesuai gambar di atas sedangkan untuk nama umum ditambah n (normal) untuk alkana yang tidak bercabang.
    CH3–CH2–CH2–CH3
    n-butana
    2) Untuk alkana yang rantainya bercabang, rantai utamanya adalah rantai dengan jumlah atom C terpanjang. Gugus yang terikat pada rantai utama disebut substituen. Susstituen yang diturunkan dari suatu alkana dengan mengurangi satu atom H disebut gugus alkil. Gugus alkil memiliki rumus umum -CnH2n+1 dan dilambangkan dengan –R. Pemberian nama gugus alkil sesuai dengan nama alkana, tetapi mengganti akhiran -ana pada alkana asalnya dengan akhiran –il. Nama dan rumus beberapa gugus alkil dapat dilihat pada ( gambar 1)
    clip_image004

    3) Rantai terpanjang nomori dari ujung yang paling dekat dengan substituen sehingga rantai cabang memberikan nomor yang sekecil mungkin. Pada pemberian nama, hanya nomor atom karbon rantai utama yang mengikat substituen dituliskan kemudian diikuti nama susbstituen. (gambar 2)
    clip_image006

    4) Jika terdapat lebih dari satu subtituen yang sama, maka nomor masing-masing atom karbon rantai utama yang mengikat substituen semuanya harus dituliskan. Jumlah substituen ditunjukan dengan awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan seterusnya, yang berturut-turut menyatakan jumlah substituen sebanyak dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Penomoran tetap dimulai dari ujung yang paling dekat dengan substituen. (gambar 3)
    clip_image008

    5) Jika terdapat dua atau lebih sustituen yang berbeda, maka dalam penulisan nama disusun berdasarkan urutan abjad huruf pertama dari nama substituen. Penomoran rantai utama dimulai dari ujung rantai yang nama substituen berdasarkan urutan abjad lebih awal. awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan seterusnya tidak perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad.
    clip_image010

    6) Awalan-awalan sek-, ters- yang diikuti tanda hubung tidak perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad. Sedangkan awalan iso dan neo tidak perlu dipisahkan dengan tanda hubung dan diperhatikan dalam penentuan urutan abjad. Awalam iso menunjukan adanya gugus –CH(CH3)2 dan awalan neo- menunjukan adanya gugus –C(CH3)3.
    clip_image013
    Tata Nama Alkena
                      Pemberian nama untuk senyawa-senyawa alkena berdasarkan sistem IUPAC mirip pemberian nama pada alkana. Rantai utama alkena merupakan rantai dengan jumlah atom C terpanjang yang melewati gugus ikatan rangkap dan atom C yang mengandung ikatan rangkap ditunjukan dengan nomor.
                   Ikatan rangkap yang dinomori diusahakan memperoleh nomor serendah mungkin. Pemberian nama pada alkena yaitu mengganti akhiran –ana pada alkana dengan akhiran –ena dengan jumlah atom C sama dengan alkana. Pemberian nama untuk alkena bercabang seperti pemberian nama pada alkana.
    clip_image015
    Alkena-alkena suku rendah nama umum lebih sering digunakan dibanding nama sistematik. Misalnya
    clip_image017
    Tatanama Alkuna
    Sistem IUPAC
    1) Pemberian nama pada alkuna menyerupai tata nama elkana yakni mengganti akhiran –ana pada alkana terkait dengan akhiran –una.
    2) Rantai atom karbon terpanjang adalah rantai atom karbon yang mengandung ikatan ganda tiga
    3) Penomoran dimulai dari salah satu ujung rantai yang memungkinkan ikatan ganda tiga mempunyai nomor serendah mungkin.
    4) Pada penulisan nama, atom C yang mengandung atom ikatan ganda tiga ditunjukan dengan nomor.
    Contoh
    clip_image019
    Nama Umum
                    Nama umum digunakan untuk alkuna-alkuna sederhana. Dalam pemberian nama umum alkuna dianggap sebagai turunan asetilena (C2H2) yang satu atom hidrogennya diganti oleh gugus akil.
    Contoh:
    gambar 9 alkana. alkena alkuna

    Materi Tata Nama Alkana Alkena Alkuna

    4

  • Silahkan klik link dibawah

    DOWNLOAD

    isi file tersebut sama saja dengan postingan sebelumnya jadi silahkan pilih mau copas sendiri atau yang langsung download file berextensi .docx (ms.word)


    jika ingin copas materi ini klik disini

    Download materi Hidrokarbon Kimia (.docx)

    4


  • Materi Hidrokarbon


    HIDROKARBON

    Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur atom karbon (C) dan atom hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari hidrokarbon alifatik.
    Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen: CH4. Etana adalah hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua atom karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga atom karbon: C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan seterusnya (CnH2·n+2)

    Klasifikasi Hidrokarbon

    Klasifikasi hidrokarbon yang dikelompokkan oleh tatanama organik adalah:
    1. Hidrokarbon jenuh/tersaturasi (alkana) adalah hidrokarbon yang paling sederhana. Hidrokarbon ini seluruhnya terdiri dari ikatan tunggal dan terikat dengan hidrogen. Rumus umum untuk hidrokarbon tersaturasi adalah CnH2n+2.Hidrokarbon jenuh merupakan komposisi utama pada bahan bakar fosil dan ditemukan dalam bentuk rantai lurus maupun bercabang. Hidrokarbon dengan rumus molekul sama tapi rumus strukturnya berbeda dinamakan isomer struktur.
    2. Hidrokarbon tak jenuh/tak tersaturasi adalah hidrokarbon yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap, baik rangkap dua maupun rangkap tiga. Hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap dua disebut dengan alkena, dengan rumus umum CnH2n.Hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap tiga disebut alkuna, dengan rumus umum CnH2n-2.
    3. Sikloalkana adalah hidrokarbon yang mengandung satu atau lebih cincin karbon. Rumus umum untuk hidrokarbon jenuh dengan 1 cincin adalah CnH2n.
    4. Hidrokarbon aromatik, juga dikenal dengan arena, adalah hidrokarbon yang paling tidak mempunyai satu cincin aromatik.
    Hidrokarbon dapat berbentuk gas (contohnya metana dan propana), cairan (contohnya heksana dan benzena), lilin atau padatan dengan titik didih rendah (contohnya paraffin wax dan naftalena) atau polimer (contohnya polietilena, polipropilena dan polistirena).

    Ciri-ciri umum

    Karena struktur molekulnya berbeda, maka rumus empiris antara hidrokarbon pun juga berbeda: jumlah hidrokarbon yang diikat pada alkena dan alkuna pasti lebih sedikit karena atom karbonnya berikatan rangkap.
    Kemampuan hidrokarbon untuk berikatan dengan dirinya sendiri disebut dengan katenasi, dan menyebabkan hidrokarbon bisa membentuk senyawa-senyawa yang lebih kompleks, seperti sikloheksana atau arena seperti benzena. Kemampuan ini didapat karena karakteristik ikatan diantara atom karbon bersifat non-polar.
    Sesuai dengan teori ikatan valensi, atom karbon harus memenuhi aturan “4-hidrogen” yang menyatakan jumlah atom maksimum yang dapat berikatan dengan karbon, karena karbon mempunyai 4 elektron valensi. Dilihat dari elektron valensi ini, maka karbon mempunyai 4 elektron yang bisa membentuk ikatan kovalen atau ikatan dativ.
    Hidrokarbon bersifat hidrofobik dan termasuk dalam lipid.
    Beberapa hidrokarbon tersedia melimpah di tata surya. Danau berisi metana dan etana cair telah ditemukan pada Titan, satelit alam terbesar Saturnus, seperti dinyatakan oleh Misi Cassini-Huygens.

    Hidrokarbon sederhana dan variasinya

    Jumlah atom
    karbon
    Alkana(1 ikatan) Alkena(2 ikatan) Alkuna (3 ikatan) Sikloalkana Alkadiena
    1 Metana Metena Metuna – –
    2 Etana Etena (etilena) Etuna (asetilena) – –
    3 Propana Propena (propilena) Propuna (metilasetilena) Siklopropana Propadiena (alena)
    4 Butana Butena (butilena) Butuna Siklobutana Butadiena
    5 Pentana Pentena Pentuna Siklopentana Pentadiena (piperylene)
    6 Heksana Heksena Heksuna Sikloheksana Heksadiena
    7 Heptana Heptena Heptuna Sikloheptana Heptadiena
    8 Oktana Oktena Oktuna Siklooktana Oktadiena
    9 Nonana Nonena Nonuna Siklononana Nonadiena
    10 Dekana Dekena Dekuna Siklodekana Dekadiena

    Penggunaan

    Hidrokarbon adalah salah satu sumber energi paling penting di bumi. Penggunaan yang utama adalah sebagai sumber bahan bakar. Dalam bentuk padat, hidrokarbon adalah salah satu komposisi pembentuk aspal.[6]
    Hidrokarbon dulu juga pernah digunakan untuk pembuatan klorofluorokarbon, zat yang digunakan sebagai propelan pada semprotan nyamuk. Saat ini klorofluorokarbon tidak lagi digunakan karena memiliki efek buruk terhadap lapisan ozon.
    Metana dan etana berbentuk gas dalam suhu ruangan dan tidak mudah dicairkan dengan tekanan begitu saja. Propana lebih mudah untuk dicairkan, dan biasanya dijual di tabung-tabung dalam bentuk cair. Butana sangat mudah dicairkan, sehingga lebih aman dan sering digunakan untuk pemantik rokok. Pentana berbentuk cairan bening pada suhu ruangan, biasanya digunakan di industri sebagai pelarut wax dan gemuk. Heksana biasanya juga digunakan sebagai pelarut kimia dan termasuk dalam komposisi bensin.
    Heksana, heptana, oktana, nonana, dekana, termasuk dengan alkena dan beberapa sikloalkana merupakan komponen penting pada bensin, nafta, bahan bakar jet, dan pelarut industri. Dengan bertambahnya atom karbon, maka hidrokarbon yang berbentuk linear akan memiliki sifat viskositas dan titik didih lebih tinggi, dengan warna lebih gelap.

    ALKANA

    Alkana (juga disebut dengan parafin) adalah senyawa kimia hidrokarbon jenuh asiklis. Alkana termasuk senyawa alifatik. Dengan kata lain, alkana adalah sebuah rantai karbon panjang dengan ikatan-ikatan tunggal. Rumus umum untuk alkana adalah CnH2n+2. Alkana yang paling sederhana adalah metana dengan rumus CH4. Tidak ada batasan berapa karbon yang dapat terikat bersama. Beberapa jenis minyak dan wax adalah contoh alkana dengan atom jumlah atom karbon yang besar, bisa lebih dari 10 atom karbon.
    Setiap atom karbon mempunyai 4 ikatan (baik ikatan C-H atau ikatan C-C), dan setiap atom hidrogen mesti berikatan dengan atom karbon (ikatan H-C). Sebuah kumpulan dari atom karbon yang terangkai disebut juga dengan rumus kerangka. Secara umum, jumlah atom karbon digunakan untuk mengukur berapa besar ukuran alkana tersebut (contohnya: C2-alkana).
    Gugus alkil, biasanya disingkat dengan simbol R, adalah gugus fungsional, yang seperti alkana, terdiri dari ikatan karbon tunggal dan atom hidrogen, contohnya adalah metil atau gugus etil.

    Klasifikasi struktur

    Hidorkarbon tersaturasi dapat berupa:
    • lurus (rumus umum CnH2n + 2), kerangka karbon membentuk rantai lurus tanpa ada cabang
    • bercabang (rumus umum CnH2n + 2, n > 3), kerangka karbon utamanya mempunyai cabang-cabang
    • siklik (rumus umum CnH2n, n > 2), ujung-ujung kerangka karbonnya bertemu sehingga membentuk suatu siklus.
    Menurut definisi dari IUPAC, 2 golongan pertama di atas dinamakan alkana, sedangkan golongan yang ketiga disebut dengan sikloalkana.Hidrokarbon tersaturasi juga dapat membentuk gabungan ketiga macam rantai diatas, misalnya linear dengan siklik membentuk polisiklik. Senyawa seperti ini masih disebut dengan alkana (walaupun tidak mempunyai rumus umum), sepanjang tetap berupa asiklik (tidak seperti siklus).

    Keisomeran


    C4-alkana dan -sikloalkana yang berbeda-beda (kiri ke kanan): n-butana dan isobutana adalah 2 isomer C4H10; siklobutana dan metilsiklopropana adalah 2 isomer C4H8.
    Bisiklo[1.1.0]butana (C4H6) tidak mempunyai isomer; tetrahedrana (tidak terlihat) (C4H4) juga tidak mempunyai isomer.
    Alkana dengan 3 atom karbon atau lebih dapat disusun dengan banyak macam cara, membentuk isomer struktur yang berbeda-beda. Sebuah isomer, sebagai sebuah bagian, mirip dengan anagram kimia, tapi berbeda dengan anagram, isomer dapat berisi jumlah komponen dan atom yang berbeda-beda, sehingga sebuah senyawa kimia dapat disusun berbeda-beda strukturnya membentuk kombinasi dan permutasi yang beraneka ragam. Isomer paling sederhana dari sebuah alkana adalah ketika atom karbonnya terpasang pada rantai tunggal tanpa ada cabang. Isomer ini disebut dengan n-isomer (n untuk “normal”, penulisannya kadang-kadang tidak dibutuhkan). Meskipun begitu, rantai karbon dapat juga bercabang di banyak letak. Kemungkinan jumlah isomer akan meningkat tajam ketika jumlah atom karbonnya semakin besar.Contohnya:

    Tata nama

    Tata nama IUPAC untuk alkana didasarkan dari identifikasi rantai hidrokarbon. Rantai hidrokarbon tersaturasi, tidak bercabang maka dinamai sistematis dengan akhiran “-ana”.

    Rantai karbon lurus

    Alkana rantai karbon lurus biasanya dikenalo dengan awalan n- (singkatan dari normal) ketika tidak ada isomer. Meskipun tidak diwajibkan, tapi penamaan ini penting karena alkana rantai lurus dan rantai bercabang memiliki sifat yang berbeda. Misalnya n-heksana atau 2- atau 3-metilpentana.
    Anggota dari rantai lurus ini adalah:
    • Metana, CH4 – 1 karbon dan 4 hidrogen
    • Etana, C2H6 – 2 karbon dan 6 hidrogen
    • Propana, C3H8 – 3 karbon dan 8 hidrogen
    • Butana, C4H10 – 4 karbon dan 10 hidrogen
    • pentana, C5H12 – 5 karbon dan 12 hidrogen
    • heksana, C6H14 – 6 carbon dan 14 hidrogen
    Mulai dengan jumlah karbon mulai dari lima diberi nama dengan imbuhan jumlah yang ditentukan IUPAC diakhiri dengan -ana. Contohnya antara lain adalah pentana, heksana, heptana, dan oktana.

    Rantai karbon bercabang


    Model dari isopentana (nama umum) atau 2-metilbutana (nama sistematik IUPAC)
    Untuk memberi nama alkana dengan rantai bercabang digunakan langkah-langkah berikut:
    • Cari rantai atom karbon terpanjang
    • Beri nomor pada rantai tersebut, dimulai dari ujung yang terdekat dengan cabang
    • Beri nama pada cabang-cabangnya
    Nama alkana dimulai dengan nomor letak cabang, nama cabang, dan nama rantai utama. Contohnya adalah 2,2,4-trimetilpentana yang disebut juga isooktana. Rantai terpanjangnya adalah pentana, dengan tiga buah cabang metil (trimetil) pada karbon nomor 2, 2, dan 4.
    Perbedaan tatanama untuk 3 isomer C5H12
    Nama umum/trivial n-pentana isopentana neopentana
    Nama IUPAC pentana 2-metilbutana 2,2-dimetilpentana
    Struktur Pentane-2D-Skeletal.svg Isopentane-2D-skeletal.png Neopentane-2D-skeletal.png

    Alkana siklik

    Sikloalkana adalah hidrokarbon yang seperti alkana, tapi rantai karbonnya membentuk cincin.
    Sikloalkana sederhana mempunyai awalan “siklo-” untuk membendakannya dari alkana. Penamaan sikloalkana dilihat dari berapa banyak atom karbon yang dikandungnya, misalnya siklopentana (C5H10) adalah sikloalkana dengan 5 atom karbon seperti pentana(C5H12), hanya saja pada siklopentana kelima atom karbonnya membentuk cincin. Hal yang sama berlaku untuk propana dan siklopropana, butana dan siklobutana, dll.
    Sikloalkana substitusi dinamai mirip dengan alkana substitusi – cincin sikloalkananya tetap ada, dan substituennya dinamai sesuai dengan posisi mereka pada cincin tersebut, pemberian nomornya mengikuti aturan Cahn-Ingold-Prelog.[3]

    Nama-nama trivial

    Nama trivial (non-IUPAC) dari alkana adalah “parafin.” Nama trivial dari senyawa-senyawa ini biasanya diambil dari artefak-artefak sejarah. Nama trivial digunakan sebelum ada nama sistematik, dan sampai saat ini masih digunakan karena penggunaannya familier di industri.
    Dapat hampir dipastikan kalau nama parafin diambil dari industri petrokimia. Alkana rantai bercabang disebut isoparafin. Penggunaan kata “paraffin” untuk sebutan secara umum dan seringkali tidak membedakan antara senyawa murni dan campuran isomer dengan rumus kimia yang sama.
    Beberapa nama ini dipertahankan oleh IUPAC

    Ciri-ciri fisik

    Tabel alkana

    Alkana Rumus Titik didih [°C] Titik lebur [°C] Massa jenis [g·cm3] (20°C)
    Metana CH4 -162 -183 gas
    Etana C2H6 -89 -172 gas
    Propana C3H8 -42 -188 gas
    Butana C4H10 0 -138 gas
    Pentana C5H12 36 -130 0.626 (cairan)
    Heksana C6H14 69 -95 0.659 (cairan)
    Heptana C7H16 98 -91 0.684 (cairan)
    Oktana C8H18 126 -57 0.703 (cairan)
    Nonana C9H20 151 -54 0.718 (cairan)
    Dekana C10H22 174 -30 0.730 (cairan)
    Undekana C11H24 196 -26 0.740 (cairan)
    Dodekana C12H26 216 -10 0.749 (cairan)
    Ikosana C20H42 343 37 padat
    Triakontana C30H62 450 66 padat
    Tetrakontana C40H82 525 82 padat
    Pentakontana C50H102 575 91 padat
    Heksakontana C60H122 625 100 padat

    ALKENA

    Alkena atau olefin dalam kimia organik adalah hidrokarbon tak jenuh dengan sebuah ikatan rangkap dua antara atom karbon. Alkena asiklik yang paling sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan tidak berikatan dengan gugus fungsional manapun, maka akan membentuk suatu kelompok hidrokarbon dengan rumus umum CnH2n.
    Alkena yang paling sederhana adalah etena atau etilena (C2H4) Senyawa aromatik seringkali juga digambarkan seperti alkena siklik, tapi struktur dan ciri-ciri mereka berbeda sehingga tidak dianggap sebagai alkena

    Tatanama IUPAC

    Untuk mengikuti tatanama IUPAC, maka seluruh alkena memiliki nama yang diakhiri -ena. Pada dasarnya, nama alkena diambil dari nama alkana dengan menggantikan akhiran -ana dengan -ena. C2H6 adalah alkana bernama etana sehingga C2H4 diberi nama etena.
    Pada alkena yang memiliki kemungkinan ikatan rangkap di beberapa tempat, digunakan penomoran dimulai dari ujung yang terdekat dengan ikatan tersebut sehingga atom karbon pada ikatan rangkap bernomor sekecil mungkin untuk membedakan isomernya. Contohnya adalah 1-heksena dan 2-heksena. Penamaan cabang sama dengan alkana.
    Pada alkena yang lebih tinggi, dimana terdapat isomer yang letaknya berbeda dengan letak ikatan rangkap, maka sistem penomoran berikut ini dipakai:
    1. Penomoran rantai karbon terpanjang dilihat dari ujung yang terdekat dengan ikatan rangkap, sehingga atom karbon pada ikatan rangkap tersebut mempunyai nomor sekecil mungkin.
    2. Ketahui letak ikatan rangkap dengan letak karbon rangkap pertamanya.
    3. Penamaan rantai alkena itu mirip dengan alkana.
    4. Beri nomor pada atom karbon, ketahui letak lokasi dan nama gugusnya, ketahui letak ikatan rangkap, lalu terakhir namai rantai utamanya.

    Berbagai contoh penamaan isomer 1-heksena. Gambar kiri: 1-heksena, gambar tengah: 4-metil-1-heksena, gambar kanan: 4-etil-2-metil-1-heksena.

    Notasi Cis-Trans

    Dalam sebuah kasus khusus pada alkena dimana 2 atom karbon mempunyai 2 gugus yang sejenis, maka notasi cis-trans dapat dipakai. Jika gugus sejenis terletak pada tempat yang sama dari ikatan rangkap, maka disebut sebagai (cis-). Jika gugus sejenis terletak berseberangan, maka disebut sebagai (trans-).

    Perbedaan antara isomer cis- dan trans-. Kiri: cis-2-butena, kanan: trans-2-butena.

    ALKUNA

    Alkuna adalah hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap tiga. Secara umum, rumus kimianya CnH2n-2. Salah satunya adalah etuna yang disebut juga sebagai asetilen dalam perdagangan atau sebagai pengelasan.

    Tata Nama

    Semua anggota alkuna berakhiran -una dan menurut IUPAC.

    Rantai karbon lurus

    Untuk alkuna rantai lurus, dinamakan sesuai dengan alkana dengan jumlah atom karbon yang sama, namun diakhiri dengan -una. Berikut adalah alkuna dengan jumlah atom karbon 2-10 disebut:

    Rantai karbon bercabang

    Untuk memberikan nama alkuna dengan rantai bercabang sama mirip dengan alkana rantai bercabang. Namun “rantai utama” pada proses penamaan haruslah melalui ikatan rangkap 3, dan prioritas penomoran dimulai dari ujung yang terdekat ke ikatan rangkap 3.




    Kalau ingin download materi ini berupa file ms.word (.docx)
    klik disini

    KIMIA (Hidrokarbon) materi

    0
  • - Copyright © 2013 Veronia Rebirth - K-ON!! - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -